Info THL-TB Penyuluh Pertanian 2017.

Rabu, 13 Desember 2017

Phospat Alam Dongkrak Produksi Jagung

Sahabat pembaca Info THL-TBPP 2017, sudah tahukah anda bahwa Petani di Dusun Gunung Agung, Kabupaten Lampung Timur, Lampung, kini bisa lebih makmur dari sebelumnya. Berkat phospat alam, produktivitas jagung naik hingga 30% atau 9 ton/ha. Padahal sebelumnya hanya menghasilkan 5-6 ton/ha pipilan kering (PK).

"Sejak saya menggunakan phospat alam, produksi jagung jadi naik. Selain itu biaya produksi pun menurun," kata salah satu petani di Dusun Gunung Agung, Desa Arjosari, Kec. Raja Selebah, Kab. Lampung Timur, Lampung, Wayan Sukre saat acara Temu Lapang Petani di Dusun Gunung Agung, Senin (11/12).

Melihat dari kondisi lahan, memang jenis tanah di Lampung adalah tanah kering masam. Permasalahan lahan kering masam adalah ketersediaan phospat dalam tanah, sehingga petani memberikan pupuk phospat pabrikan (dalam hal ini SP-36) untuk memperbaiki lahan. Sayangnya SP-36 ini ketika dicampurkan ke tanah akan langsung diserap oleh Fe (besi) dan Al (almunium) yang banyak terkandung pada tanah kering masam, sehingga tanaman tidak kebagian.

"Makanya pemberian phospat alam itu menjadi solusi jitu untuk pertanian di lahan kering masam karena diserap oleh tanah sangat lambat, sehingga tanaman dapat menyerapnya," kata Kepala Balai Penelitian Tanah, Husnain.

Phospat alam yang sangat reaktif diaplikasikan di tanah masam dengan kadar keasaman 4,5-5 pH (rata-rata di Lampung, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan) adalah phospat alam asal Negara Moroko. Negara tersebut merupakan negara penghasil phospat alam terbesar di dunia.

Hampir 75% phospat alam berada di Moroko. Karena itu Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian) melalui Balai Penelitian Tanah bekerjasama dengan OCP.SA (holding phospat alam asal Moroko) melakukan penelitian tentang phospat alam dari Moroko untuk pertanaman jagung di Indonesia.

"Sebenarnya kerjasama penelitian ini sudah lama. Sempat berhenti, lalu dilanjutkan lagi di tahun 2013 sampai sekarang. Dan phospat alam asal Moroko ini sangat reaktif di lahan kering masam di Indonesia (pH 4,5-5)," tambah Husnain.

Untuk pengapikasiannya sendiri, bukan hanya phospat alam saja yang diberikan. Harus disertai dengan pupuk lainnya, terutama pupuk kandang agar produktivitas lebih meningkat. Untuk 1 ha lahan, dibutuhkan 1 ton phospat alam yang disebar pada saat pengolahan tanah agar tercampur.

Setelah 5 hari, jagung bisa langsung ditanam. Lalu untuk menutup lubang pertanaman ditutup dengan pupuk kandang (dosis 400 kg per ha). Setelah 15 hari, baru diberi pupuk NPK 100 kg dan urea 30 kg. Baru diusia 20 hari ditambahkan kembali 50 kg NPK dan 20 kg urea. "Hasilnya akan ada peningkatan 20-30%dengan phospat alami dan pupuk berimbang. Untuk dosis 1 ton per ha yang diberikan satu kali,  mampu bertahan hingga 5 kali musim tanam. Tentu ini sangat hemat sekali," kata Husnain. 

Berita ini bersumber dari Tabloid Sinar Tani.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Facebook Page

Pesan Sponsor

Pesan Sponsor

loading...

Pesan Sponsor

Diberdayakan oleh Blogger.